Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita berbicara seenaknya, asal bunyi, padahal sebuah kata atau kalimat yang tersusun dengan baik dan disampaikan dengan indah, dapat MENGUBAH sesuatu....
Selasa, 07 Agustus 2012
Senin, 04 Juni 2012
TUJUH KALI NAIK HAJI TIDAK BISA MELIHAT KA'BAH
______________________________fb : ka'bah, aku datang____________
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.
Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.
Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.
Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.
Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.
“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah.
Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. “Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya. “Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu. “Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.
“Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
“Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.
Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.
Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah.
“Cuma itu ? tanya ulama terperangah. “Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.
“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama.
“Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”
“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.
“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”
“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”
Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
“Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.
Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”
Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah t elah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
“Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan.
Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut.
“Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.
Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.
Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.
Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu.
Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.
“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu.
Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya.
Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.
Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.
Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.
Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.
Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.
Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.
“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah.
Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. “Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya. “Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu. “Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.
“Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
“Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.
Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.
Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah.
“Cuma itu ? tanya ulama terperangah. “Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.
“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama.
“Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”
“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.
“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”
“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”
Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
“Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.
Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”
Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah t elah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
“Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan.
Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut.
“Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.
Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.
Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.
Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu.
Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.
“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu.
Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya.
Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.
Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.
Kamis, 12 April 2012
CERITA HARI INI
Ketika dalam perjalanan pulang setelah mengikuti kegiatan rutin, di
samping kiri aku melihat seorang bapak mengendarai sepeda motor dengan
gerobak disampingnya. Nampaknya dia sudah selesai berjualan dan hendak
pulang.
Awalnya, aku tidak peduli…, sampai aku melihat sesuatu yang menurutku ganjil.
"Oh Tuhan….",
Kakinya tidak menapak pada foot step sepeda
motor. Kakinya hanya menggantung kecil, kira-kira hanya berjarak 40 cm dari
pangkal pahanya. Di ujung kaki itu, dikenakan sebuah sepatu yang bagus..bersih dan arah sepatu itu terbalik, ujung jari yang seharusnya ke
depan ini justru ke belakang.
Sejenak aku merasa miris. Aku kagum dengan semangat bapak itu. Walau
keadaannya seperti itu, dia tetap semangat bekerja. Dia tidak
meminta-minta. Dia tidak berpakaian kusut supaya dikasihani, ttapi justru
berpakaian rapi dan bersepatu. Dan dia bekerja sampai semalam ini (pkl
21.30)
Aku terus menatap bapak itu sampai hilang dari pandanganku……..
Aku merenung. Adakah aku lebih semangat dari bapak itu? Aku lebih
sempurna secara fisik. Lebih banyak hal yg bisa aku lakukan. Tapi
sampai seberapa mampu aku mengolah segala yang aku miliki. Sering kali
aku memoles diri supaya dikasihani… menempatkan diri sebagai sosok yang
menderita..memiliki persoalan hidup terberat…. memasang muka masam… dan
putus asa untuk berusaha. Tapi….. seorang bapak yang tidak kukenal ….. malam ini telah
mengajar aku bahwa apapun keadaan diri kita, jgn kita berputus asa.
Semua ada jalan…, asal kita mau berusaha. Teruslah bersemangat..
Tampilah sebagai orang yang pantas dihargai..bukan dikasihani.
TIGA BULAN TIDAK MAMPU MEMANDANG WAJAH SUAMI
ehm…kenapa ya akhir-akhir ini kok aku makin mecintai-nya? lirih seorang suami dalam akun facebooknya, dia sampai menulis :
ternyata, di balik sifat pendiammu, engkau begitu rajin mengurus
rumah dan anak-anak kita, belum lagi, ternyata kian hari, masakanmu
kian cocok dengan seleraku, gimana ya? kok jadi makin cinta neh…(isi
hati seorang suami)
sedang asyik-asyiknya mengenang masa-masa indah bersama istri, sang
suami yang juga ayah ini mendapat kiriman email dari seorang ustadz di
kota-nya. Sebuah email yang berisi tentang hubungan suami istri yang
begitu menjadi cobaan bagi keduanya, moga kita Allah jadikan pasangan
suami istri yang sakinah ma waddad dan war rahmah.
Berikut kisahnya :
Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami
istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri
berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya?
Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi
berisik.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah
seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab
mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul,
sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan
bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk
hamil dan mempunyai anak.
Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa
inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil
lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang
istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum
laki-laki.
Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya
untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada
istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada
masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang
suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk
mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan
ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.
Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan
tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri
ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab,
lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu
–wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan
tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi
wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang
yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara
perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke
para tetangga, kerabat dan sanak saudara.
Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami
istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat
menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan,
saya telah bersabar selama
Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak
meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik
dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya
selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak
akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak
bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya,
agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan
darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan
mengasuhnya.
Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata:
“istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …,
mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah
berceramah di hadapannya.
Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu
tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju,
dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi
jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil
lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar
keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah
memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara
kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku
seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya
kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan …
saya kan …”. Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya
ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik
saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang istri. “Ya, saya akan pergi karena
tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang
suami.
Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan
sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi
pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam
dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi
meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya
datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan
sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya
untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun
selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan
anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para
tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah
menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah
bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun
telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan
riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa
menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia
sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian
tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.
Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri
dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia
menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali
mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat
membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.
Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri
tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara
dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama
sekali.
(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh
cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada
kawan-kawannya)
sumber:www.catatanseorangayah.wp.com
PILIHAN SULIT
__________________________________________ Widiyanto Yudie
Silahkan pilih orang yang terpenting dalam sepanjang hidupmu.
Disaat menujuh jam-jam istirahat kelas, dosen mengatakan pada mahasiswa/mahasiswinya:
“Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar.”
Kemudian salah satu mahasiswi berjalan menuju pelataran papan tulis.
DOSEN: Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda, pada papan tulis.
Dalam
sekejap sudah di tuliskan semuanya oleh mahasiswi tersebut. Ada nama
tetangganya, teman kantornya, orang terkasih dan lain-lain.
DOSEN: Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang menurut anda paling tidak penting !
Mahasiswi itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.
DOSEN: Silahkan coret satu lagi!
Kemudian mahasiswi itu mencoret satu nama teman kantornya lagi.
DOSEN: Silahkan coret satu lagi!
Mahasiswi itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan seterusnya.
Sampai pada akhirnya diatas papan tulis hanya tersisa tiga nama, yaitu nama orang tuanya, suaminya dan nama anaknya.
Dalam
kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua
Mahasiswa/mahasiswi tertuju memandang ke arah dosen, dalam pikiran
mereka (para mahasiswa/mahasiswi) mengira sudah selesai tidak ada lagi
yang harus dipilih oleh mahasiswi itu.
Tiba-tiba dosen memecahkan keheningan dengan berkata, “Silahkan coret satu lagi!”
Dengan
pelahan-lahan mahasiswi itu melakukan suatu pilihan yang amat sangat
sulit. Dia kemudian mengambil kapur tulis, mencoret nama orang tuanya.
DOSEN: Silahkan coret satu lagi!
Hatinya
menjadi binggung. Kemudian ia mengangkat kapur tulis tinggi-tinggi.
Lambat laun menetapkan dan mencoret nama anaknya. Dalam sekejap waktu,
terdengar suara isak tangis, sepertinya sangat sedih.
Setelah
suasana tenang, Dosen lalu bertanya, “Orang terkasihmu bukannya Orang
tuamu dan Anakmu? Orang tua yang membesarkan anda, anak adalah anda
yang melahirkan, sedang suami itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa anda
berbalik lebih memilih suami sebagai orang yang paling sulit untuk
dipisahkan ?
Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang akan di jawabnya.
Setelah
agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata, “Sesuai waktu yang
berlalu, orang tua akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak jika
sudah besar setelah itu menikah bisa meninggalkan saya juga, yang
benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.”
Minggu, 08 April 2012
CICAK
Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan
tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok
yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan
seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya
melekat pada sebuah surat.
Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek
surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu
ketika rumah itu pertama kali dibangun.
Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi
terperangkap selama 10 tahun? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun,
tanpa bergerak sedikit pun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak
masuk akal.
Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu! Bagaimana dia makan?
Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu! Bagaimana dia makan?
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak
itu. Apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.
Kemudian, tidak tahu dari mana datangnya, seekor cicak lain muncul
dengan makanan di mulutnya...aahhh!
Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak
lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10
tahun. Sungguh ini sebuah cinta, cinta yang indah. Cinta dapat terjadi
bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat
dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu
tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan
pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu
dapat memiliki karunia yang begitu mengagumkan.
Jangan pernah mengabaikan orang yang Anda kasihi !
IBU dan ANAK
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya, ia adalah sebuah
hal yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko kecil pada sebuah
pasar. Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya untuk dijual,
apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan. Ia adalah sebuah hal
yang memalukan.
Pada suatu hari di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku
datang. Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan hal ini kepadaku? Aku
melemparkan muka dengan rasa benci dan berlari. Keesokan harinya di
sekolah.. “Ibumu hanya memiliki satu mata?” dan mereka semua mengejekku.Aku berharap ibuku hilang dari dunia ini maka aku berkata kepada ibu aku,”Ibu, kenapa kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi bahan tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati saja?”
Ibu tidak menjawab. Aku merasa sedikit buruk, tetapi pada waktu yang
sama, rasanya sangat baik bahwa aku telah mengatakan apa yang telah
ingin aku katakan selama ini.
Mungkin itu karena ibu tidak menghukum aku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya.
Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas
air. Ibuku menangis disana, dengan pelan, seakan ia takut bahwa ia akan
membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku
sebelumnya kepadanya, ada sesuatu yang mencubit hati aku.
Meskipun begitu, Aku membenci ibuku yang menangis dari satu matanya. Jadi, Aku mengatakan diri ku jikalau aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena aku membenci ibu bermata-satu aku dan kemiskinan kami.
Meskipun begitu, Aku membenci ibuku yang menangis dari satu matanya. Jadi, Aku mengatakan diri ku jikalau aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena aku membenci ibu bermata-satu aku dan kemiskinan kami.
Lalu aku belajar dengan keras. aku meninggalkan ibu dan ke Seoul
untuk belajar, dan diterima di Universitas Seoul dengan segala
kepercayaan diri. Lalu, aku menikah. aku membeli rumah milikku sendiri.
Lalu aku memiliki anak-anak juga. Sekarang, aku hidup bahagia sebagai
seorang pria yang sukses. aku menyukainya disini karena ini adalah
tempat yang tidak meningatkan aku akan ibu.
Kebahagiaan ini menjadi besar dan semakin besar, ketika seseorang
tidak terduga menjumpai aku “Apa?! Siapa ini?”… Ini adalah ibu aku..
tetap dengan satu matanya. Ini rasanya seperti seluruh langit sedang
jatuh ke diri aku. Anak perempuan aku lari kabur, takut akan mata ibu
aku.
Dan aku bertanya kepadanya, “Siapa Anda? aku tidak mengenalmu!!” sandiwara aku. aku berteriak kepadanya “Mengapa engkau berani datang ke rumah aku dan menakuti anak aku! Pergi dari sini sekarang juga!” Dan ibu dengan pelan menjawab, “Oh, maafkan aku. aku pasti salah alamat,”
dan dia menghilang. Terima kasih Tuhan.. Ia tidak mengenali aku. aku
merasa cukup lega. aku mengatakan kepada diri aku bahwa aku tidak akan
peduli, atau berpikir tentang ini sepanjang sisa hidup aku.
Lalu ada perasaan lega datang kepada aku.. Suatu hari, sebuah surat
mengenai reuni sekolah datang ke rumah aku. aku berbohong kepada istri
aku mengatakan bahwa aku akan pergi perjalanan bisnis. Setelah reuni
ini, aku pergi ke rumah lama aku.. karena rasa penasaran saja, aku
menemukan ibu aku terjatuh di tanah yang dingin. Tetapi aku tidak
meneteskan satu air mata sekalipun. Ia memiliki sepotong kertas di
tangannya.. dan itu adalah surat untuk diri aku.
=================================================
Anakku,
Anakku,
Aku pikir hidupku sudah cukup lama saat ini. Dan.. aku tidak akan
mengunjungi Seoul lagi.. tetapi apakah itu terlau banyak jikalau aku
ingin kamu untuk datang menunjungiku sekali-kali nak? aku sangat
merindukanmu. Dan aku sangat lega ketika mendengar kamu akan datang
dalam reuni ini.
Tetapi aku memutuskan untuk tidak datang ke sekolah.. Untuk Kamu..
aku meminta maaf jikalau aku hanya memiliki satu mata dan aku hanya
membawa kemaluan bagi dirimu.
Kamu tahu, ketika kamu masih sangat kecil, kamu terkena sebuah
kecelakaan, dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak
tahan melihatmu harus tumbuh dengan hanya satu mata.. maka aku
memberikanmu mata aku.. aku sangat bangga kepada anak aku yang melihat
dunia yang baru untuk aku, menggantikan aku, dengan mata itu.
Aku tidak pernah marah kepadamu atas apapun yang kamu lakukan.
Beberapa kali ketika kamu marah kepada aku. aku berpikir sendiri,”Ini karena kamu mencintai aku.” Aku rindu waktu ketika kamu masih sangat kecil dan berada di sekitarku.
Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu. Kamu adalah duniaku.
(iphincow.wordpress.com)
Jumat, 06 April 2012
CARA MENDAPATKAN PACAR DALAM 5 MENIT
(Tip dari orang yang belum pengalaman dan perlu dibuktikan kebenarannya)
Tahu nggak sih cinta itu apa ?
CINTA itu ANU
Anu... ehmmm... cinta, cinta pokoke cintaaaa!
Ini adalah sebuah tips paling baru dan perlu dibuktikan apakah ampuh atau tidak. Tips ini diberikan oleh orang yang belum pengalaman dan masih jomblo.
Jadi gini, kalo kamu-kamu lagi jomblo, kenapa harus malu mengakuinya ? Akui saja, karena kita tahu bahwa di duni ini manusia selalu diciptakan berpasangan. Kalau nggak percaya, Bang Rhoma Irama bisa marah sambil ngomong "TERLALU !"
Dengan mengakui kalau kita jomblo, biasanya orang-orang yang sudah ada rasa dengan kita, akan melakukan sebuah pendekatan dengan berbagai cara. Dengan memberitahukan kalau kita jomblo berarti kita juga sedang memasang jurus iseng-iseng berhadiah. Ok, tidak usah panjang lebar, inilah tipsnya :
- Update status di facebook atau twitter. Contoh: lagi jomblo neh sekarang, ada yang mau nggak ? kalau mau, kirim pesan ya... karena aku akan mencintaimu dengan sederhana....
- Tunggu responnya. Mereka yang respek atau sekadar iseng kelihatan kok dari komentar yang diberikan pada status itu. Lalu pilih mana yang sepertinya serius memberikan komentar. Lalu, silakan ditindaklanjuti dengan segera.
- Kalau bisa cari yang sedang online agar bisa langsung ngobrol. Kalau nggak online, bisa dengan meninggalkan pesan.
- Dan, ini yang terpenting, gunakan kalimat yang unik dalam melakukan pendekatan.
cowok : Hai cewek... kamu pemilik optik ya ?
cewek : Bukan... kenapa ? why ??
cowok : Matamu bening, bikin deg-degan....
cewek : wakakakak... LO... GOMBAAAALLLLLLLLLLLLLLL !!!!
cowok : Eh punya obeng nggak ?
cewek : punya, buat apa ?
cowok : hehehe kalo cowok punya nggak ?"
cewek : Hmmmm... (biasanya sok mikir sejenak atau malu-malu kucing mengakuinya. Tapi, kalau dia suka
sama kita, dia akan memberikan respon yang cepat. Tapi cuek aja deh, jangan terlalu dipikirkan).
cowok : gimana punya nggak ???
cewek : nggak, lagi kosong neh... kenapa?
cowok : mau nggak aku isi yang lagi kosong itu?
cewek : maksudnya ? (sambil malu-malu gitu deh... pasang ikon yang aneh, biasanya)
cowok : Aku isi hatimu... hehehehehe (jangan lupa kasih tanda senyum atau tawa kecil, jadi kalau ditolak itu
kesannya kita bercanda)
cewek : seriusssssssssss ? Diisi apa ?
cowok : Diisi dengan cintaku yang sederhana.
cewek : Love????? Ih serius ya ? Boleh kok... aku coba...
YES ... ! (jangan seneng dulu, pastikan sekali algi)
cowok : Boleh nggak aku panggil sayang ? (cieh... cieh... !)
cewek : Sayang ? Boleh... I like it....
So !
Itulah tips menembak cewek via facebook. Boleh dicoba untuk Anda yang benar-benar membutuhkan pasangan. Jika sudah seperti itu, segera akhiri pembicaraan, usahan Anda terlihat tampak sibuk.
cowok : Ok sayang have nice dream.... aku mau melanjutkan pekerjaan dulu ya....
Dan ingat !, jangan nulis status apapun, kalau perlu beberapa hari, agar Anda terlihat sibuk.
So, selamat mencoba....
Kamis, 05 April 2012
ABUNAWAS dan KISAH 6 EKOR LEMBU
Pada suatu hari, Sultan Harun al-Rasyid memanggil Abu Nawas menghadap
ke Istana. Kali ini Sultan ingin menguji kecerdikan Abu Nawas.
Sesampainya di hadapan Sultan, Abu Nawas
pun menyembah dan Sultan bertitah, “Hai, Abu Nawas, aku menginginkan
enam ekor lembu berjenggot yang pandai bicara, bisakah engkau
mendatangkan mereka dalam waktu seminggu? Kalau gagal, akan aku penggal
lehermu.
“Baiklah, tuanku Syah Alam, hamba junjung tinggi titah tuanku.”
Semua punggawa istana yang hadir pada saat itu, berkata dalam hati, “Mampuslah kau Abu Nawas!”
Abu Nawas bermohon diri dan pulang ke rumah.
Begitu sampai di rumah,
ia duduk berdiam diri merenungkan keinginan Sultan. Seharian ia tidak
keluar rumah, sehingga membuat tetangga heran. Ia baru keluar rumah
persis setelah seminggu kemudian, yaitu batas waktu yang diberikan
Sultan kepadanya.
Ia segera menuju kerumunan orang banyak, lalu ujarnya, “Hai orang-orang muda, hari ini hari apa?”
Orang-orang yang menjawab benar akan dia lepaskan, tetapi orang-orang
yang menjawab salah, akan ia tahan. Dan ternyata, tidak ada seorangpun
yang menjawab dengan benar. Tak ayal, Abu Nawas pun marah-marah kepada
mereka, “Begitu saja kok nggak bisa menjawab. Kalau begitu, mari kita
menghadap Sultan Harun Al-Rasyid, untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.”
Keesokan harinya, balairung istana Baghdad dipenuhi warga masyarakat
yang ingin tahu kesanggupan Abu Nawas membawa enam ekor lembu
berjenggot.
Sampai di depan Sultan Harun Al-Rasyid, ia pun menghaturkan sembah
dan duduk dengan khidmat. Lalu, Sultan berkata, “Hai Abu Nawas, mana
lembu berjenggot yang pandai bicara itu?”
Tanpa banyak bicara, Abu Nawas pun menunjuk keenam orang yang dibawanya itu, “Inilah mereka, tuanku Syah Alam.”
“Hai, Abu Nawas, apa yang kau tunjukkan kepadaku itu?”
“Ya, tuanku Syah Alam, tanyalah pada mereka hari apa sekarang,” jawab Abu Nawas.
Ketika Sultan bertanya, ternyata orang-orang itu memberikan jawaban
berbeda-beda. Maka berujarlah Abu Nawas, “Jika mereka manusia, tentunya
tahu hari ini hari apa. Apalagi jika tuanku menanyakan hari yang lain,
akan tambah pusinglah mereka. Manusia atau hewan kah mereka ini? “Inilah
lembu berjenggot yang pandai bicara itu, Tuanku.”
Sultan heran melihat Abu Nawas pandai melepaskan diri dari ancaman hukuman. Maka Sultan pun memberikan hadiah 5.000 dinar kepada Abu Nawas.
Sumber bacaan: Alkisah Nomor 02 / 19 Jan – 1 Feb 2004
Rabu, 04 April 2012
UBI (KETELA POHON) dan KENTUT
Bila makan ubi (Manihot utilissima Pohl) atau nasi gandum yang mengadung banyak tajin dan serat, akan terbentuk gas metan saat proses pencernaan sehingga seringkali kentut kencang bunyinya, namun tidak begitu berbau, akan tetapi, bila daging yang mengandung protein memasuki lambung, hidrogen serta zat indol dan scatol terbentuk, meski gasnya tidak banyak dan suara kentutnya kecil, tetapi baunya luar biasa menyengat.KOPI = IQ JONGKOK
Kalau minum kopi secukupnya, otak akan terangsang untuk emlancarkan proses pencernaan dan peredaran darah, makanya bila minum kopi pada saat ngantuk atau lelah, kepala akan terasa ringan dan daya konsentrasi pun meningkat. Tetapi karena kopi memperlambat waktu bagi otak untuk menerima informasi baru, kita akan merasa otak menjadi lamban. Lagipula, kecepatan tubuh menghancurkan kafein pada anak lebih lama daripada orang dewasa, karenanya lebih baik anak-anak menghindarinya. Menurut hasil penelitian, bila anak minum kopi bersama Cola dan coklat, kemampuan belajarnya akan menurun.
MENGAPA BUAYA MENANGIS ?
Setelah menyantap mangsanya, buaya dapat meneteskan airmata.
Ini karena ketika buaya menelan tubuh mangsanya yang besar, buaya harus membuka mulutnya lebar-lebar, saat itu kelenjar airmatanya tertekan kemudian meneteskan airmata.
Jika Anda tiba-tiba melihat peristiwa di atas, mungkin Anda mengira karena telah memakan mangsanya, buaya merasa bersalah dan meminta maaf ! makanya, "airmata buaya" sering digunakan untuk mengumpamakan "penyesalan yang palsu"
ILMU
Di jaman dahulu ada seorang tua di kota Basra – Iraq yang memiliki
seorang anak laki-laki yang cerdas, ganteng,anak harapan orang
tua. Untuk memenuhi harapan orang tua ini, anak tersebut dikirim ke kota
Bagdad – menempuh perjalanan sekitar 545 km dengan berjalan kaki –
untuk bisa belajar dengan ulama terkenal saat itu. Karena jauhnya
perjalanan ini, anak tersebut baru pulang setelah seluruh ilmu yang
dimiliki oleh sang guru diajarkan kepadanya selama bertahun-tahun
kemudian.
Ketika dia pulang, ayahnya yang sudah semakin tua menungguinya di depan pintu. Karena kerinduan yang luar biasa dipeluknya erat-erat anak satu-satunya yang disayanginya ini, kemudian si ayah bertanya : " Apa yang sudah kamu pelajari dari sang guru selama bertahun-tahun ini ?". Anaknya menjawab, bahwa dia sudah diajari seluruh ilmu yang dimiliki oleh sang guru – kemudian dia menjelaskan detilnya.
Setelah anaknya selesai menjelaskan semuanya, sang ayah berkata : "Gurumu baru mengajarkan ilmu yang dia bisa ajarkan, segera kamu balik menemui dia lagi untuk minta ditunjukkan jalan ilmu yang tidak bisa dia ajarkan…".
Maka sang anak yang patuh ini, balik menempuh perjalanan 545 km lagi
untuk menemui sang guru. Ketika bertemu sang guru dan menyampaikan pesan
ayahnya, sang guru yang masyhur tersebut langsung paham apa yang
dimaksudkan oleh ayah dari sang murid ini.
Sang guru berkata : "aku punya 300 ekor kambing di sekitar sini, kamu kumpulkan kambing tersebut dan kamu bawa ke Jabal Kumar" , kemudian dia melanjutkan "kamu jangan balik kesini, kecuali kambing tersebut telah menjadi 1000 ekor".
Maka dengan susah payah pemuda berilmu ini mengumpulkan 300 ekor kambing yang bertebaran di sekitar kediaman sang guru. Lebih susah lagi dia harus menggiring 300 ekor kambing ini, menempuh perjalanan sekitar 150 km untuk sampai ke Jabal Kumar.
Setiap saat sebagian kambing sudah berjalan ke arah yang benar, yang lainnya berlarian menyebar atau bahkan ke arah balik ke Bagdad. Maka perlu waktu berbulan-bulan untuk bisa membawa seluruh kambing ini sampai ke Jabal Kumar.
Berbulan-bulan pula pemuda ini tidak bertemu dengan manusia lain, temannya hanya kambing-kambing yang dia tidak mengerti bahasanya dan kambing-kambing-pun tentu tidak mengerti bahasa dia. Setiap kali dia rindu untuk berbicara, dia menjadi seperti orang gila yang berbicara dengan kambing.
Ternyata dalam kesunyian tidak berbicara dengan siapapun inilah pemuda tersebut mulai belajar ilmu yang tidak bisa diajarkan itu. Dia berusaha memahami alam, dimana ada rumput, dimana ada air, dimana dia bisa berteduh dari panas, dengan apa dia menghangatkan tubuh di waktu dingin dlsb.
Dia juga belajar berinteraksi dengan makhluk lain tanpa harus berbicara. Dia menjadi paham apa kemauan para kambing ini, dan para kambing-pun nampaknya menjadi paham apa arahan pemuda yang kini telah menjadi penggembala tersebut.
Setelah dua tahun berlalu, kambing-kambing inipun telah mencapai seribu. Waktunya kini menggiring balik 1000 kambing menempuh perjalanan 150 km menuju kota Bagdad. Hanya saja perjalanan balik ini menjadi jauh lebih ringan karena adanya komunikasi tanpa bicara dengan para kambing tersebut, dan si pemuda juga telah belajar ilmu yang tidak bisa diajarkan oleh siapapun. (vivaforum.blogspot)
Ketika dia pulang, ayahnya yang sudah semakin tua menungguinya di depan pintu. Karena kerinduan yang luar biasa dipeluknya erat-erat anak satu-satunya yang disayanginya ini, kemudian si ayah bertanya : " Apa yang sudah kamu pelajari dari sang guru selama bertahun-tahun ini ?". Anaknya menjawab, bahwa dia sudah diajari seluruh ilmu yang dimiliki oleh sang guru – kemudian dia menjelaskan detilnya.
Setelah anaknya selesai menjelaskan semuanya, sang ayah berkata : "Gurumu baru mengajarkan ilmu yang dia bisa ajarkan, segera kamu balik menemui dia lagi untuk minta ditunjukkan jalan ilmu yang tidak bisa dia ajarkan…".
Maka sang anak yang patuh ini, balik menempuh perjalanan 545 km lagi
untuk menemui sang guru. Ketika bertemu sang guru dan menyampaikan pesan
ayahnya, sang guru yang masyhur tersebut langsung paham apa yang
dimaksudkan oleh ayah dari sang murid ini.Sang guru berkata : "aku punya 300 ekor kambing di sekitar sini, kamu kumpulkan kambing tersebut dan kamu bawa ke Jabal Kumar" , kemudian dia melanjutkan "kamu jangan balik kesini, kecuali kambing tersebut telah menjadi 1000 ekor".
Maka dengan susah payah pemuda berilmu ini mengumpulkan 300 ekor kambing yang bertebaran di sekitar kediaman sang guru. Lebih susah lagi dia harus menggiring 300 ekor kambing ini, menempuh perjalanan sekitar 150 km untuk sampai ke Jabal Kumar.
Setiap saat sebagian kambing sudah berjalan ke arah yang benar, yang lainnya berlarian menyebar atau bahkan ke arah balik ke Bagdad. Maka perlu waktu berbulan-bulan untuk bisa membawa seluruh kambing ini sampai ke Jabal Kumar.
Berbulan-bulan pula pemuda ini tidak bertemu dengan manusia lain, temannya hanya kambing-kambing yang dia tidak mengerti bahasanya dan kambing-kambing-pun tentu tidak mengerti bahasa dia. Setiap kali dia rindu untuk berbicara, dia menjadi seperti orang gila yang berbicara dengan kambing.
Ternyata dalam kesunyian tidak berbicara dengan siapapun inilah pemuda tersebut mulai belajar ilmu yang tidak bisa diajarkan itu. Dia berusaha memahami alam, dimana ada rumput, dimana ada air, dimana dia bisa berteduh dari panas, dengan apa dia menghangatkan tubuh di waktu dingin dlsb.
Dia juga belajar berinteraksi dengan makhluk lain tanpa harus berbicara. Dia menjadi paham apa kemauan para kambing ini, dan para kambing-pun nampaknya menjadi paham apa arahan pemuda yang kini telah menjadi penggembala tersebut.
Setelah dua tahun berlalu, kambing-kambing inipun telah mencapai seribu. Waktunya kini menggiring balik 1000 kambing menempuh perjalanan 150 km menuju kota Bagdad. Hanya saja perjalanan balik ini menjadi jauh lebih ringan karena adanya komunikasi tanpa bicara dengan para kambing tersebut, dan si pemuda juga telah belajar ilmu yang tidak bisa diajarkan oleh siapapun. (vivaforum.blogspot)
SESAAT.....
Lima
April
Dua ribu duabelas,
aku duduk pada selasar tak bertepi
jarum pelan berdetak : sembilan dua puluh menit
puncakku marah tapi pada apa kutak tahu
puncakku mendidih tapi pada siapa dan mengapa
Tak tahu diri, kataku...
berkacalah pada kolam yang bergelombang dengan air kehijauan
biar aku tak bermimpi
biar aku tak berkhayal
biar aku tahu bahwa aku tak tahu diri...
dedaunan pohon pastilah hijau,
adalah kuning tapi akan rontok juga...
semua ada akhir,
walau kita terkadang tak tahu, kapan awal itu terjadi...
Tak tahu diri, kataku...
belum juga aku berkaca, tak ada yang salah...
di hatiku yang salah !
aku duduk pada selasar tak bergores,
ingin kuremukkan tiang-tiang yang menyanggah
biar roboh dan menimbunku dalam-dalam
ditikam dalam,
matiku....
April
Dua ribu duabelas,
aku duduk pada selasar tak bertepi
jarum pelan berdetak : sembilan dua puluh menit
puncakku marah tapi pada apa kutak tahu
puncakku mendidih tapi pada siapa dan mengapa
Tak tahu diri, kataku...
berkacalah pada kolam yang bergelombang dengan air kehijauan
biar aku tak bermimpi
biar aku tak berkhayal
biar aku tahu bahwa aku tak tahu diri...
dedaunan pohon pastilah hijau,
adalah kuning tapi akan rontok juga...
semua ada akhir,
walau kita terkadang tak tahu, kapan awal itu terjadi...
Tak tahu diri, kataku...
belum juga aku berkaca, tak ada yang salah...
di hatiku yang salah !
aku duduk pada selasar tak bergores,
ingin kuremukkan tiang-tiang yang menyanggah
biar roboh dan menimbunku dalam-dalam
ditikam dalam,
matiku....
SESAK DADAKU
panas terasa membakar tulang sum-sumku
Berlari,
kubawa pedih perih dari luka
pada gunung kutanyakan,
pada pepohonan kuserukan,
pada sungai dan laut kuarungkan keringat dan airmataku....
pada langit kuberikan tatapan kosong
Berlari,
kubawa pedih perih dari luka
kutetap meradang menerjang sampai batasku.
Hari ini aku hidup dalam kosong
kutak ingin mati dengan tanpa apa-apa
DUNIA HEWAN 1
Llama (Lama glama) adalah binatang camelidae yang juga binatang asli Amerika Selatan. Llama juga biasa digunakan sebagai binatang pengangkut barang oleh masyarakat Inka dan masyrakat di sekitar pegununungan Andes.
Binatang ini bisa mencapai tinggi 1,6 meter hingga 1,8 meter dengan
berat 127 kilogram hingga 204 kilogram. Bayi Llama (disebut cria)
memiliki berat antara 9 kg hingga 14 kg. Llama adalah binatang sosial
yang hidup secara berkelompok. Llama dapat membawa barang 25% hingga 30%
dari berat badannya.
MUSUH SEMUT NOMOR 1
Dalam sehari mereka bisa makan hingga 30.000 ekor semut.
Lidah mereka panjangnya 60 cm dan lengket.
Setiap menitnya mereka bisa menjulurkan lidahnya keluar-masuk untuk menjilat semut sampai 150 kali.
Belum lagi ditambah dengan cakar tajamnya yang bisa menggali sarang semut.
Bulu tebal dan kasar di sekujur tubuhnya membuat semut tidak bisa menggigit Anteater.
MENGAPA KATAK BERNYANYI KETIKA HUJAN TURUN ?
(pengetahuan Umum)
Katak berbunyi keras saat hujan karena mereka harus bernafas.
Saat masih berupa berudu (katak kecil), mereka bernapas dengan insang.
Setelah menjadi katak, mereka bernapas dengan paru-paru.
Namun, katak tidak bisa menggelembungkan paru-paru untuk bernapas seperti hewan lainnya.
katak menghirup udara dengan menggelembungkan dan mengerutkan leher.
Karena itu, katak tidak hanya bernapas melalui paru-paru, tetapi juga melalui kulit.
Saat kelembaban tinggi, katak jadi sulit bernafas.
Untuk memperbanyak jumlah udara yang masuk, mereka harus mengeluarkan bunyi dengan keras melalui leher.
Selasa, 03 April 2012
KISAH SEEKOR TIKUS....
Sepasang suami dan istri
petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang
belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam
“hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ”Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….”
Ia mendatangi ayam dan berteriak ”ada perangkat tikus”. Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”.
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata ”Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ”Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak ! berbahaya buat aku sama sekali”
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata ” Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”
Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tahu, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Ternyata.....istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ”Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….”
Ia mendatangi ayam dan berteriak ”ada perangkat tikus”. Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”.
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata ”Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ”Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak ! berbahaya buat aku sama sekali”
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata ” Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”
Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tahu, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Ternyata.....istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.
"Suatu hari, ketika Anda mendengar seseorang dalam kesulitan dan mengira itu bukan urusan Anda, maka PIKIRKANLAH Sekali lagi..."
YANG TERDEKAT....
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari
demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka terbakar menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih
muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang dipakai
semua gadis di sekelilingku, aku mencuri lima
puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu
ditangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
terpaku dan diam, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun
mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua
layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang
melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung
adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus
mencambukinya sampai Beliau kelelahan.
Sesudahnya,
Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah
belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan
kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu
pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam
pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air
mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya
menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya
dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak
memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah
lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku
tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu,
adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11 tahun.
Ketika adikku
berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di
pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke
sebuah universitas provinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman,
menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya bergumam, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik... hasil
yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan
menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai
keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan
ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah
cukup saya membaca banyak buku. " Ayah mengayunkan tangannya dan memukul
adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemah ? Ayah akan
menyekolahkan kamu berdua sampai selesai! walaupun Bapak harus mengutang ke sana-sini" ,kemudian ia
mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan
tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan
berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau
tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."
Aku,
sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke
universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku
meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas
tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan
air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17
tahun. Aku 20 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di
lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu
hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan
memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!
"Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan
melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan
pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana
penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah
adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan
air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya,
dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa
pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!
Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..." Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah
jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus
menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir
kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama
lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa
pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan
bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis
kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak
waktu untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya,
sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan
rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika
memasang kaca jendela baru itu.." Aku masuk ke dalam ruangan kecil
adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku
mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. "Apakah itu
sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya
bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat
itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku
berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku
dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami,
tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan
dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju
juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan
ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen
pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia
bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku
di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat
sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi
menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa
kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan
sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang
begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan
tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan
kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak
berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian
keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang pendidikan
juga karena aku!""Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia
30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa
yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa berpikir ia menjawab,
"Kakakku."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali
sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah
SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya
berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku
memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan
berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu
gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang
sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup,
saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Tepuk
tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya
kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, "Dalam
hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam
kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini,
air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai....
Cintai Aku dengan Sederhana
"Apakah kita bisa bahagia ?" tanya kekasih baruku pada suatu malam yang anget.
"hmm". Aku diam sejenak, memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu.
Aku masih diam lagi, kali ini aku tampak bingung. Apa yang harus aku jawab dengan pertanyaan seperti itu?
"Mas..., apakah kita bisa bahagia ?" tanyanya sekali lagi
"Kebahagiaan itu asalnya dari hati kita masing-masing. Kalau hati ini senang, tentulah kita bisa bahagia", kataku sedikit muter-muter.
"Maksudnya ?"
"Maksudnya begini, aku tidak menjanjikan kebahagiaan itu kepadamu, tapi marilah kita cari kebahagiaan itu bersama. Menurutku, kebahagiaan itu sebenarnya sederhana saja dalam aplikasinya".
Kenapa orang bisa bahagia ?
Karena dia mensyukuri apa yang mereka dapatkan dengan lapang dada. Contoh, suatu hari nanti kamu ingin makan spaghetti yang enak di restoran megah dengan pelayanan mewah, tapi karena uangnya nggak cukup, lalu aku mengajakku ke warung burjo dan kita makan Indomie rebus pake telur. Kalau kamu bisa mensyukuri mie rebus itu, insyaaallah, rasanya tidak akan jauh beda dari spaghetti. Tapi, kalau kamu memaksa untuk tetap memakan spaghetti, ya mie rebus akan tetap menjadi mie rebus yang menurutmu rasanya nggak enak".
Aku tersenyum kecil.
"Begitu ya, sayang ?" Dia membalas senyumanku.
"iya... begitulah kira-kira. Poin pentingnya adalah mensyukuri apa yang kita terima atau lebih tepatnya menerima apa adanya". Aku tersenyum sekali lagi.
"Jadi, kalau begitu nggak boleh memaksakan diri ? Kalau nggak punya AC ya cukup pakai kipas angin saja toh ? kalau nggak punya kipas angin ya pakai kertas aja toh buat kipas-kipas ? terus disyukuri dan diterima apa adanya gitu ?" tanyanya sambil menggeser duduknya agar lebih dekat denganku.
Duh..., kenapa sih aku nggak ketemu dengan dia sejak dulu-dulu ? Enak banget kalau ada yang mau menerima apa adanya gitu.
Hah ?
Emang ada yang kayak gitu ?
Ada wanita yang mau menerima apa adanya ?
Yang tidak minta macem-macem ?
Yang nggak nuntut yang muluk-muluk ?
Hmmm... entahlah... semoga saja ada.
"Kalau memang kebahagiaan yang kita cari, mari saling mencintai secara sederhana saja. Untuk saat ini, aku hanya meminta sedikit cintamu, sedikit sayangmu", kataku sesaat kemudian.
"Kok sedikit sih ? Aku kasih semua deh cintaku, sayangku buatmu". Dia sedikit malu-malu.
"Duh... jangan... aku sedikit saja, berikan sisanya untuk anak-anak kita kelak, sayangi mereka seratus kali lipat dari engkau menyayangiku, cintai mereka seribu kali lipat seperti engaku mencintaiku.cintai mereka seribu kali lipat seperti engkau mencintaiku. Aku cukup cinta yang sederhana saja, cinta yang sederhana itu kayak Rumah Makan Padang, walau sederhana, tapi tetap saja banyak menu di dalamnya ", kataku sambil mengingat rumah makan padang di sudut kota, membayangkan rendangnya yang enak, membayangkan kikilnya yang pedesnya nampar. Akhirnya, aku menelan ludah, membayangkan menu makanan di rumah makan padang itu. Tapi, apa daya, kantong sedang kempes jadi ya belum bisa makan di sana malam ini. Cukup duduk di trotoar jalan, mengamati deburan ombak pantai. Romantis kok walau perut sebenarnya sudah melakukan kudeta.
Ya... cintai aku dengan sederhana saja karena sederhana itu akan memunculkkan kebahagiaan.
Nggak percaya ?
Coba deh perhatikan atau tanya ke sahabat-sahabatmu kalau sederhana itu akan selalu selaras dengan bahagia.
Nggak percaya ?
Sudah dibuktikan kok, tuh ada Rumah Makan Padang Sederhana, ada juga Rumah Makan Padang Bahagia.
Hehehehehe !!!
KESEIMBANGAN HIDUP
(ceritayangmemotivasi.blogspot.com)
Dikisahkan, suatu hari ada seorang
anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi merasa hidupnya tidak
bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi
mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami. Orang tua dan
keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli
kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu
untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya
sendiri.
Hingga suatu hari, karena
ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah seorang petinggi
perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat terpukau saat
melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.
"Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus
Bapak selesaikan," seru tuan rumah. Bukannya masuk, si pemuda
menghampiri dan bertanya, "Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman
yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat
keputusan-keputusan hebat di perusahaan kita?"
Tanpa
mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak
menjawab ramah, "Anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh
kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling, bawalah mangkok susu
ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari".
Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak
lama kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah
sedikit pun. Si bapak bertanya, "Anak muda. Kamu sudah lihat koleksi
batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung kesayanganku?"
Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab, "Maaf Pak, saya belum melihat
apa pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya
akan pergi melihatnya."
Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan
kagum dia berkata, "Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman."
tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si
Bapak mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di
dalam mangkok yang hampir habis. Menyadari lirikan si bapak ke arah
mangkoknya, si pemuda berkata, "Maaf Pak, keasyikan menikmati indahnya
rumah Bapak, susunya tumpah semua".
"Hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di
mangkok itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika
rumahku terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama
seperti itulah kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu
tidak tumpah sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi
waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana
membagi dan memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan
bijak, maka pasti kehidupan kita akan harmonis".
Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, "Terima kasih, Pak. Tidak
diduga saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini.
Sekarang saya tahu, kenapa orang-orang menjuluki Bapak sebagai orang
yang bijak dan baik hati".
ANDAIKATA RASULLULLAH MENJADI TAMU KITA
Bayangkan apabila
Rasulullah dengan seijin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah
kita. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah
kita, Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia,
memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke
ruang tamu kita. Kemudian tentunya kita akan meminta dengan sangat agar
Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu
tersenyum….
Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam.
Beliau tentu tetap tersenyum….
Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa. Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu. Beliau tentu tersenyum….
Bagaimana bila kemudian Rasulullah bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa kita lebih hafal lagu-lagu barat daripada menghafal Shalawat kepada Rasulullah SAW.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mempelajarinya.
Beliau tentu tersenyum….
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hafal di luar kepala mengenai anggota Indonesian Idols atau AFI. Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang shalat. Atau barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah.
Beliau tentu tersenyum….
Belum lagi koleksi buku-buku kita. Belum lagi koleksi kaset kita. Belum lagi koleksi karaoke kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita? Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi.
Beliau tentu tersenyum….
Barangkali kita menjadi malu karena pada saat Maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV. Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan shalat sunnah. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al-Qur’an di bandingkan Koran. Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita.
Beliau tentu tersenyum….
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita. Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah bertanya tentang nama dan alamat penjaga masjid di kampung kita.
Betapa senyum beliau masih ada di situ….
Bayangkan apabila Rasulullah tiba-tiba muncul di depan rumah kita.
Apa yang akan kita lakukan?
Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita?
Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu ?
Maafkan kami ya Rasulullah….
Masihkah beliau tersenyum?
Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir….
Oh..., betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah….
"Sehalus-halusnya musibah adalah ketika kedekatan kita dengan-Nya perlahan-lahan terenggut dan itu biasanya ditandai dengan menurunnya kualitas ibadah"
Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam.
Beliau tentu tetap tersenyum….
Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa. Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu. Beliau tentu tersenyum….
Bagaimana bila kemudian Rasulullah bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa kita lebih hafal lagu-lagu barat daripada menghafal Shalawat kepada Rasulullah SAW.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mempelajarinya.
Beliau tentu tersenyum….
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hafal di luar kepala mengenai anggota Indonesian Idols atau AFI. Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang shalat. Atau barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah.
Beliau tentu tersenyum….
Belum lagi koleksi buku-buku kita. Belum lagi koleksi kaset kita. Belum lagi koleksi karaoke kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita? Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi.
Beliau tentu tersenyum….
Barangkali kita menjadi malu karena pada saat Maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV. Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan shalat sunnah. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al-Qur’an di bandingkan Koran. Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita.
Beliau tentu tersenyum….
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita. Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah bertanya tentang nama dan alamat penjaga masjid di kampung kita.
Betapa senyum beliau masih ada di situ….
Bayangkan apabila Rasulullah tiba-tiba muncul di depan rumah kita.
Apa yang akan kita lakukan?
Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita?
Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu ?
Maafkan kami ya Rasulullah….
Masihkah beliau tersenyum?
Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir….
Oh..., betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah….
"Sehalus-halusnya musibah adalah ketika kedekatan kita dengan-Nya perlahan-lahan terenggut dan itu biasanya ditandai dengan menurunnya kualitas ibadah"
Kamis, 29 Maret 2012
TERLUPAKAN....
_________________(cerita motivasi buat Anda)__________
Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang. Pemilik
kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata
“Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
” Ya, tetapi, saya tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai.
“Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
“Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa, saya hanya terharu" jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seseorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! tetapi,…ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Engkau,
seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan
dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.
Setelah mendengar perkataan Ana, pemilik kedai menarik nafas panjang dan berkata:
“Nona
mengapa kau berpikir seperti itu ? Renungkanlah hal ini........aku hanya
memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak
bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak
berterima kasih kepadanya ? Dan kau malah bertengkar dengannya”
Ana, terhenyak mendengar hal tersebut.
“Mengapa
aku tidak berpikir tentang hal tersebut ? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru
kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak
untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan
kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku
bertengkar dengannya.
Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya.
Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika
bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah
“Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, ibu telah menyiapkan makan malam
dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika
kau tidak memakannya sekarang”
Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.
"Terkadang kita sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya kepada kita, tetapi
kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua
kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur
hidup kita".
Langganan:
Komentar (Atom)













