"Apakah kita bisa bahagia ?" tanya kekasih baruku pada suatu malam yang anget.
"hmm". Aku diam sejenak, memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu.
Aku masih diam lagi, kali ini aku tampak bingung. Apa yang harus aku jawab dengan pertanyaan seperti itu?
"Mas..., apakah kita bisa bahagia ?" tanyanya sekali lagi
"Kebahagiaan itu asalnya dari hati kita masing-masing. Kalau hati ini senang, tentulah kita bisa bahagia", kataku sedikit muter-muter.
"Maksudnya ?"
"Maksudnya begini, aku tidak menjanjikan kebahagiaan itu kepadamu, tapi marilah kita cari kebahagiaan itu bersama. Menurutku, kebahagiaan itu sebenarnya sederhana saja dalam aplikasinya".
Kenapa orang bisa bahagia ?
Karena dia mensyukuri apa yang mereka dapatkan dengan lapang dada. Contoh, suatu hari nanti kamu ingin makan spaghetti yang enak di restoran megah dengan pelayanan mewah, tapi karena uangnya nggak cukup, lalu aku mengajakku ke warung burjo dan kita makan Indomie rebus pake telur. Kalau kamu bisa mensyukuri mie rebus itu, insyaaallah, rasanya tidak akan jauh beda dari spaghetti. Tapi, kalau kamu memaksa untuk tetap memakan spaghetti, ya mie rebus akan tetap menjadi mie rebus yang menurutmu rasanya nggak enak".
Aku tersenyum kecil.
"Begitu ya, sayang ?" Dia membalas senyumanku.
"iya... begitulah kira-kira. Poin pentingnya adalah mensyukuri apa yang kita terima atau lebih tepatnya menerima apa adanya". Aku tersenyum sekali lagi.
"Jadi, kalau begitu nggak boleh memaksakan diri ? Kalau nggak punya AC ya cukup pakai kipas angin saja toh ? kalau nggak punya kipas angin ya pakai kertas aja toh buat kipas-kipas ? terus disyukuri dan diterima apa adanya gitu ?" tanyanya sambil menggeser duduknya agar lebih dekat denganku.
Duh..., kenapa sih aku nggak ketemu dengan dia sejak dulu-dulu ? Enak banget kalau ada yang mau menerima apa adanya gitu.
Hah ?
Emang ada yang kayak gitu ?
Ada wanita yang mau menerima apa adanya ?
Yang tidak minta macem-macem ?
Yang nggak nuntut yang muluk-muluk ?
Hmmm... entahlah... semoga saja ada.
"Kalau memang kebahagiaan yang kita cari, mari saling mencintai secara sederhana saja. Untuk saat ini, aku hanya meminta sedikit cintamu, sedikit sayangmu", kataku sesaat kemudian.
"Kok sedikit sih ? Aku kasih semua deh cintaku, sayangku buatmu". Dia sedikit malu-malu.
"Duh... jangan... aku sedikit saja, berikan sisanya untuk anak-anak kita kelak, sayangi mereka seratus kali lipat dari engkau menyayangiku, cintai mereka seribu kali lipat seperti engaku mencintaiku.cintai mereka seribu kali lipat seperti engkau mencintaiku. Aku cukup cinta yang sederhana saja, cinta yang sederhana itu kayak Rumah Makan Padang, walau sederhana, tapi tetap saja banyak menu di dalamnya ", kataku sambil mengingat rumah makan padang di sudut kota, membayangkan rendangnya yang enak, membayangkan kikilnya yang pedesnya nampar. Akhirnya, aku menelan ludah, membayangkan menu makanan di rumah makan padang itu. Tapi, apa daya, kantong sedang kempes jadi ya belum bisa makan di sana malam ini. Cukup duduk di trotoar jalan, mengamati deburan ombak pantai. Romantis kok walau perut sebenarnya sudah melakukan kudeta.
Ya... cintai aku dengan sederhana saja karena sederhana itu akan memunculkkan kebahagiaan.
Nggak percaya ?
Coba deh perhatikan atau tanya ke sahabat-sahabatmu kalau sederhana itu akan selalu selaras dengan bahagia.
Nggak percaya ?
Sudah dibuktikan kok, tuh ada Rumah Makan Padang Sederhana, ada juga Rumah Makan Padang Bahagia.
Hehehehehe !!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar