Lima
April
Dua ribu duabelas,
aku duduk pada selasar tak bertepi
jarum pelan berdetak : sembilan dua puluh menit
puncakku marah tapi pada apa kutak tahu
puncakku mendidih tapi pada siapa dan mengapa
Tak tahu diri, kataku...
berkacalah pada kolam yang bergelombang dengan air kehijauan
biar aku tak bermimpi
biar aku tak berkhayal
biar aku tahu bahwa aku tak tahu diri...
dedaunan pohon pastilah hijau,
adalah kuning tapi akan rontok juga...
semua ada akhir,
walau kita terkadang tak tahu, kapan awal itu terjadi...
Tak tahu diri, kataku...
belum juga aku berkaca, tak ada yang salah...
di hatiku yang salah !
aku duduk pada selasar tak bergores,
ingin kuremukkan tiang-tiang yang menyanggah
biar roboh dan menimbunku dalam-dalam
ditikam dalam,
matiku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar